Senin, 05 Juli 2010

ASAL USUL MUNCULNYA FILSAFAT

ASAL USUL MUNCULNYA FILSAFAT
Kata filsafat berasal dari kata Yunani filosofia, yang berasal dari kata filosofein yang berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari kata Yunani philosophis yang berasal dari kata kerja philein yang berarti mencintai atau philia yang berarti cinta dan sophia yang berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata Inggris philosophy yang biasanya diterjemahkan sebagai “cinta kearifan”.
Filsafat berawal dari orang-orang Yunani yang mula-mula berfilsafat di Barat mengatakan bahwa filsafat timbul karena ketakjuban. Ketakjuban di sini adalah ketakjuban menyaksikan keindahan dan kerahasiaan alam semesta ini lantas menimbulkan keinginan untuk mengetahuinya. Berhadapan dengan alam yang indah, luas, bagus, dan ajaib pada pada saat malam hari, timbul di hati mereka keinginan hendak mengetahui rahasia alam ini. Lalu timbul pertanyaan di dalam hati mereka, dari mana datangnya alam ini?, bagaimana terjadinya!, bagaimana kemajuannya dan ke mana sampainya!. Demikianlah selama beratus tahun alam ini menjadi pertanyaan yang memikat perhatian para ahli pikir atau filusuf. Akan tetapi, hendaknya perlu diperhatikan bahwa pertanyaan yang dapat menimbulkan filsafat bukanlah pertanyaan yang sembarangan. Pertanyaan yang dangkal seperti “Apa rasa gula?” akan dapat dijawab oleh lidah, kemudian pertanyaan “Pada tahun keberapa tanaman kopi berbuah?” tidak akan menimbulkan filsafat karena riset dapat menjawab pertanyaan ini. Pertanyaan yang dalam, ultimate, dan bobotnya berat itulah yang akan menimbulkan filsafat bila jawabannya dijelaskan secara serius dan detail. Contohnya seperti pertanyaan Thales, “What is the nature of the world stuff?” apa sebenarnya bahan alam semesta ini? Indera tak dapat menjawabnya, sains juga terdiam. Thales menjawab air, ia mendasari jawabannya dengan dasar bahwa “Water is the basic principle of the universe” prinsip dasar alam semesta adalah air karena air dapat berubah menjadi berbagai wujud. Selain Thales, banyak juga filusuf yang mengemukakan jawabannya. Ada yang menemukan empat unsur yaitu tanah, air, udara, dan api. Ada yang menemukan apeiron yang cirinya mungkin sama dengan Tuhan. Jadi, pertnyaan itulah yang menimbulkan filsafat. Berikut ini akan kami coba untuk memaparkan beberapa pemikiran dari para tokoh filsafat mengenai asal-usul munculnya filsafat.
1. Thales (624 – 546 SM)
Orang Miletus digelari “Bapak Filsafat” karena dialah orang yang mula-mula berfilsafat. Seperti yang telah kami paparkan di atas tadi gelar itu diberikan karena ia mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar yang jarang diperhatikan orang zaman sekarang “What is the nature of the world stuff?” apa sebenarnya bahan alam semesta ini? Ia sendiri menjawab air. Thales mengambil air sebagai asal alam semesta karena ia melihtanya sebagai sesuatu yang sangat diperlukan dalam kehidupan, dan dia juga berpendapat bahwa bumi ini terapung di atas air. Pertanyaan itu dijawabnya dengan menggunakan akal bukan menggunakan agama atau kepercayaan lainnya. Alasannya karena air penting bagi kehidupan dan dari sinilah akal mulai digunakan lepas dari keyakinan.
2. Anaximenes
Mengenai tanggal lahirnya diketahui bahwa ia lebih muda dari Anaximandros (610-540 SM). Menurut Anaximenes prinsip yang merupakan asal usul segala sesuatu adalah udara. Udara melahirkan semua benda dalam alam semesta karena suatu proses pemadatan dan pengenceran (condensation and rarefaction). Kalau udara semakin bertambah kepadatannya maka muncullah berturut-turut angin, air, tanah, dan akhirnya batu. Sebaliknya, kalau udara itu menjadi lebih encer yang timbul ialah api. Pandangan Anaximenes tentang susunan jagat raya, dia berpendapat bahwa bumi itu berupa meja bundar yang melayang di atas udara. Demikian pun matahari, bulan, dan bintang-bintang laksana sehelai daun. Badan-badan jagat raya itu tidak terbenam di bawah bumi akan tetapi mengelilingi bumi yang datar itu. Matahari lenyap pada waktu malam, karena tertutup di belakang bagian-bagian tinggi.
3. Herakleitos (544-484 SM)
Herakleitos menyatakan “You can not step twice into the same river for the fresh waters are ever flowing upon you” engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua kali karena air sungai itu selalu mengalir. Menurut Herakleitos alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah, sesuatu yang dingin berubah menjadi panas, yang panas berubah menjadi dingin. Herakleitos juga berbicara tentang kehidupan dalam suatu konteks kosmologis. Dalam kosmologinya Herakleitos mengatakan bahwa kosmos selalu berubah dari api menjadi air lalu menjadi tanah dan sebaliknya dari tanah menjadi air lalu menjadi api lagi. Itu berarti bila kita hendak memahami kehidupan kosmos, kita mesti menyadari bahwa kosmos itu dinamis. Kosmos tidak pernah berhenti, ia selalu bergerak dan berubah. Itulah sebabnya ia sampai pada kongklusi bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini bukanlah bahan (stuff) nya seperti yang dinyatakan oleh Thales, melainkan prosesnya.
4. Pythagoras (572-497 SM)
Ia dilahirkan di pulau Samos, Ionia. Pemikirannya substansi dari semua benda adalah bilangan dan segala gejala alam merupakan pengungkapan pengungkapan inderawi dari perbandingan-perbandingan matematis. Bilangan merupakan inti sari dan dasar pokok dari sifat-sifat benda (number rules the universe = bilangan memerintah jagad raya). Pemikirannya tentang bilangan, ia mengemukakan bahwa setiap bilangan dasar dari 1 sampai 10 mempunyai kekuatan dan arti sendiri-sendiri, seperti Tuhan adalah bilangan tujuh, jiwa itu bilangan enam, badan itu bilangan empat. Pythagoraslah yang mengatakan bahwa alam semesta itu merupakan satu keseluruhan yang teratur, sesuatu yang harmonis seperti dalam musik.
5. Leukippos
Leukippos adalah pendasar aliran atomisme. Ia beraal dari kota Miletos, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa ia berasal dari kota Elea. Filusuf-filusuf atomis berpendapat bahwa rea;itas seluruhnya bukanlah satu melainkan terdiri dari banyak unsur. Oleh karena itu unsur-unsur itu diberi nama “atom” (atomos terdiri atas dua suku kata Yunani yaitu a yang berarti tidak dan tomos yang berarti terbagi). Atom-atom itu merupakan bagian-bagian materi yang begitu kecil sehingga mata tidak mampu mengamatinya. Menurut Leukippos jumlah atom tidak terhingga, para atomis menyangka bahwa atom-atom selalu bergerak ke semua jurusan dan para atomis tidak merasa perlu untuk menunjukkan suatu penyebab khusus yang mengakibatkan gerak itu. Bagi para atomis adanya ruang kosong sudah cukup sebagai syarat yang memungkinkan gerak atom. Atom-atom mulai bergerak dengan gerak puting beliung, makin lama makin banyak atom mengambil bagian dalam gerak itu. Leukippos berpikir bahwa dengan cara ini banyak dunia ditimbulkan.
6. Democritos (460-370 SM)
Ia lahir di kota Abdera di pesisir Thrake di Yunani Utara. Pemikirannya sama dengan pemikiran Leukippos bahwa realitas bukanlah satu tetapi terdiri dari banyak unsur dan jumlahnya tak terhingga. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian materi yang sangat kecil sehingga indera tak mampu mengamatinya dan tidak dapat dibagi lagi. Unsur-unsur tersebut dikatakan sebagai atom. Menurut pendapatnya atom-atom itu selalu bergerak berarti harus ada ruang kosong sebab atom hanya dapat bergerak dan menduduki satu tempat saja. Sehingga Democritos berpendapat bahwa realitas itu ada yaitu: atom itu sendiri (yang penuh) dan ruang tempat atom bergerak (yang kosong).
7. Empedocles (490-435 SM)
Lahir di Akragos pulau Sicilia. Empedocles berpendapat bahwa alam semesta di dalamnya tidak ada hal yang dilahirkan secara baru dan tidak ada hal yang hilang. Realitas tersusun oleh empat unsur, yaitu api, udara, tanah, dan air kemudian empat unsur tersebut digabungkan dengan unsur yang berlawanan sehingga penggabungan dari unsur-unsur yang berlawanan tersebut akan menghasilkan satu benda dengan kekuatan yang sama, tidak berunah walaupun dengan komposisi yang berbeda. Dia juga berpendapat bahwa terdapat dua unsur yang mengatur perubahan-perubahan di alam semesta ini yaitu cinta dan benci. Cinta mengatur ke arah penggabungan dan benci mengatur ke arah perceraian dan perubahan. Dengan demikian, dalam kejadian di alam semesta unsur cinta dan benci selalu menyertai. Proses penggabungan dan perceraian tersebut juga berlaku untuk melahirkan makhluk-makhluk hidup.
8. Socrates (469-399 SM)
Ia anak seorang pemahat Sophroniscos dan ibunya bernama Phairnarete yang bekerja sebagai seorang bidan. Isterinya bernama Xantipe yang dikenal sebagai seorang yang judes (galak dan keras). Ia dari keluarga yang kaya dengan mendapatkan pendidikan yang baik, kemudian ia menjadi perajurit Athena. Karena ia tidak suka terhadap urusan politik, maka ia lebih senang memusatkan perhatiannya kepada filsafat yang akhirnya ia dalam keadaan miskin. Ajarannya berisi bahwa semua kebenaran itu relatif telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan dan menggucangkan keyakinan agama. Ia berpendapat bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, sebagian kebenaran memang relatif tetapi tidak semuanya. Dia meyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filosof berdasrkan idea-idea raisional dan keahlian dalam pengetahuan.
9. Plato (427-347 SM)
Plato adalah pengikut Socrates yang taat diantara para pengikutnya yang mempunyai pengaruh besar. Ia lahir di Athena dengan nama asli Aristocles. Ia belajar filsafat dari Socrates, ibunya bernama Periktione. Sebagai orang yang dilahirkan dalam lingkungan bangsawan ia mendapatkan pendidikan yang baik dari seorang bangsawan bernama Pyrilampes. Sejak anak-anak ia telah mengenal Socrates dan kemudian menjadi gurunya selama 8 tahun. Plato memperkuat pendapat Socrates dalam menghadapi kaum Sofis bahwa kebenaran umum itu memang ada, bukan dibuat melainkan sudah ada di dalam idea. Plato juga berpendapat bahwa selain kebenaran yang umum itu ada kebenaran yang khusus yaitu kongkretisasi idea di alam ini.
10. Aristoteles (384-322 SM)
Ia dilahirkan di Stageira Yunani Utara pada tahun 384 SM. Ayahnya adalah seorang dokter pribadi raja Macedonia Amyntas. Karena hidupnya di lingkungan istana, ia mewarisi keahlian dalam penegtahuan empirisdari ayahnya. Pada usia 17 tahun ia dikirim ke Athena untuk belajar di Akademia Plato selama kira-kira 20 tahun hingga Plato meninggal. Dalam dunia filsafat, Aristoteles terkenal sebagai Bapak Logika. Aristoteles dalam metaphysics menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kebenaran. Aristoteles percaya adanya Tuhan, bukti adanya Tuhan menurutnya ialah Tuhan sebagai penyebab gerak. Tuhan menurut Aristoteles berhubungan dengan dirinya sendiri, Tuhan dicapai dengan akal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berlanggan artikel Blogtegal via e-Mail