Sabtu, 12 Desember 2009

SPIRITUALISME, AGNOSTISISME DAN ATEISME SERTA TINJAUAN DALAM ISLAM

SPIRITUALISME, AGNOSTISISME DAN ATEISME SERTA TINJAUAN DALAM ISLAM

I. PENDAHULUAN
Dengan rasa cemas orang berbicara mengenai antisipasi masa depan. Apaplagi benda benda yang bernama masa depan itu di sini sering dikaitkan dengan era globalisasi. Era macam itu dalam benak kita serba mengancam. Elemen kebudayaan lokal harus masuk kancah pergaulan budaya global, dengan resiko terkoyak-koyak dan punah. Dalam lingkup kehidupan agama pun rasa cemas itu ada, para pemimpin umat dan para perumus kebijakan umat jauh-jauh hari sering mulai bicara perkara masa depan. Walaupun demikian di Indonesia masih banyak masyarakatnya yang menganut spiritualisme kuno seperti percaya pada roh-roh halus yang mempunyai kekuatan dan benda-benda yang dipercayai dapat membawa keberuntungan, semua itu tidak terlepas dari spiritualisme jawa yang penuh dengan unsur-unsur klenik. Seperti yang terjadi di Solo di mana masyarakatnya masih mempercayai kotoran kebo bule sebagai benda yang diyakini dapat mengobati segala macam penyakit.
Tidak terlepas pula dengan fenomena ateisme yang sangat erat kaitannya dengan rasionalisme, di mana seseorang itu lebih mempercayai akal dari pada takdir Tuhan. Dalam sebuah survei di Amerika Serikat pada tahun tujuan puluhan dan delapan puluhan, orang yang mengaku tidak mengikuti agama apapun adalah orang yang lebih muda, kebanyakan pria, berpendidikan dan berpendapatan tinggi, lebih liberal, sering tidak bahagia dan terasingkan dari masyarakat. Berdasarkan 12.043 wawancara pada tahun 2004, sembilan persen dari orang Amerika yang mengaku tidak ikut agama apapun atau secara terang-terangan mengaku ateis atau agnostik cenderung secara politik liberal, Demokrat, mandiri, lebih muda, hidup di Barat, mahasiswa, dan mereka yang tinggal dengan seseorang tanpa pernikahan.
Pada makalah ini saya akan mencoba memaparkan mengenai hal-hal yang meliputi tiga materi tersebut yaitu spiritualisme, agnotisisme dan ateisme dan bagaimana hubungannya dengan agama Islam.
II. RUMUSAN MASALAH
1. Spiritualisme
A. Kelahiran Spiritualisme
B. Dua Sisi Spiritualisme
C. Kebudayaan Spiritualisme Zaman Prasejarah
D. Spiritualisme Dalam Sejarah Islam
2. Agnostisisme
A. Pengertian Agnostisisme
B. Sejarah Munculnya Agnostisisme
3. Ateisme
A. Apa itu ateisme?
B. Sejarah Ateisme
C. Ateisme Dalam Dunia Barat
D. Ateisme Dalam Islam
E. Pembagian Ateisme

III. PEMBAHASAN
1. SPIRITUALISME
A. Kelahiran Spiritualisme
Pada mulanya spiritualisme bukan persoalan agama. Ia lebih merupakan persoalan duniawi yang muncul sebagai akibat dari perubahan-perubahan sosial. Di dalam perubahan ini lahir ketegangan sosial maupun psikologis. Dan ketegangan itu melahirkan sejumlah ketidakpastian hidup, sebuah anomie, pada tingkat individu maupun kelompok, karena nialai-nilai anutan lama tergusur, sedangkan pegangan baru untuk ketentraman hidup belum lagi jelas sosok dan sifatnya. Watak urban menentukan sekali kelahiran spiritualisme ini. Dan pada tingkat tertentu apa yang sekarang disebut globalisasi, lebih mempertajam tuntutan kelahiran spiritualisme karena globalisasi memang membawa watak urban. Spiritualisme lebih merupakan gejala sosiologis. Ia terjadi tidak cuma oleh datangnya arus besar kebudayaan asing, melainkan bisa juga terjadi sebagai akibat dari corak rutinitas hidup kita sendiri yang cepat berubah dari hari ke hari, melalui tatanan sosial-politik dan kebudayaan yang kta rancang dan kita laksanakan sendiri maka ketegangan-ketegangan sosial mudah muncul, dan bahwa ketegangan-ketegangan itulah sumber utama kelahiran spiritualisme.

B. Dua Sisi Spiritualisme
Kalau kelahiran spiritualisme di dalam masyarakat dimaksudkan sebagai jawaban sadar dan terencana, untuk mencari pemecahan sistematis dan tuntas, menemukan alternatif, bahwa hanya lewat spiritualisme hidup urban dan serba materi ini bisa di atasi, maka spiritualisme layak diberi penghargaan. Tetapi jika spiritualisme dijadikan pelarian dari ketegangan hidup, maka ia harus disebut psiko-patologi pada tingkat individu pelakunya, dan sosio-patologi pada tingkat komunitas yang lebih luas.

C. Kebudayaan Spiritualisme Zaman Prasejarah
Kebudayaan spiritual pada zaman prasejarah hakikatnya adalah kepercayaan primitif yang terdapat di berbagai belahan dunia yang disebut “dinamisme” dan “animisme”. Kebudayaan spiritual pada zaman prasejarah sebenarnya tidak banyak yang dapat diketahui, melainkan hanya bagian yang disebut zaman Neolithic (persajian berupa binatang dan pemujaan kepada arwah nenek moyang) dan Megalithic (tradisi mendirikan bangunan-bangunan batu besar, simbol kebesaran dari orang yang telah mati yang dipusatkan pada bangunan-bangunan batu besar, yang kemudian menjadi medium penghormatan)

D. Spiritualisme Dalam Sejarah Islam
dalam sejarah islam terdapat khazanah spiritualisme yang sangat berharga, yakni sufisme. ia berkembang mengikuti dialektika jaman sejak muhammad saw diutus sampai sekarang. pada jaman islam klasik, tasawuf merupakan kepentingan individual. pada jaman pertengahan, ia berubah menjadi tarekat. Spiritualisme pada generasi pertama Islam berfungsi untuk mendorong gerak sejarah ke depan dan pada saat yang sama membuat hidup lebih seimbang. bagi masyarakat terbelakang. Peran spiritualisme dimasa-masa mendatang menjadikan Islam tidak sekedar ethical religion dimana Islam lebih berfungsi sebagai ajaran etika mendampingi proses modernisasi dan sekularisasi. lebih dari itu, Islam memiliki kecenderungan sebagai civil religion yang dihayati dan diamalkan sebagai reaksi terhadap perubahan masyarakat yang sangat cepat akibat kemajuan ilmu pengetahuan. Kita optimis tasawuf dan tarekatnya akan muncul menjadi semangat jaman.

2. AGNOSTISISME
A. Pengertian Agnostisisme
Inggris: agnosticism. Asal dari istilah ini ialah kata Yunani a yang berarti “bukan”, “tidak”, dan gnostikos yang berarti “orang yang mengetahui atau mempunyai pengetahuan tentang”. Kata agnostos berarti “tidak diketahui”.

Beberapa Pengertian
1. Keyakinan bahwa kita tidak dapat memiliki pengetahuan tentang Tuhan. Atau keyakinan bahwa mustahil untuk membuktikan ada atau tidak adanya Tuhan.
2. Keyakinan akan ketidakmampuan untuk memahami atau memperoleh pengertian, terutama pengertian Tuhan dan tentang asas-asas pokok agama dan filsafat.
Jadi agnostisisme adalah suatu pandangan filosofis bahwa suatu nilai kebenaran dari suatu klaim tertentu umumnya yang berkaitan dengan theologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dan lainnya adalah tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas.

B. Sejarah Munculnya Istilah Agnostisisme
Istilah agnostisisme adalah sebuah istilah buatan T.H. Huxley untuk menyatakan keyakinan yang tertangguhkan. Huxley menggunakan istilah ini untuk diterapkan pada pernyataan mana saja yang kejelasannya tidak mencukupi untuk dipercaya. Secara umum, agnostisisme berarti teori tentang tidak dapat diketahuinya sesuatu. Akan tetapi, istilah ini terutama diterapkan pada penangguhan kepercayaan berkenaan dengan Allah. Protagoras beranggapan bahwa dalam kaitan dengan para dewata kita tidak punya jalan untuk mengetahui apakah mereka ada atau tidak. Demikian misalnya, Spencer yang mempertalikan istilah itu dengan yang tak diketahui dan Stephen yang turut mempopulerkan istilah itu


3. ATEISME
A. Apa itu ateisme?
Pada dasarnya, ateisme adalah paham yang mengingkari adanya Tuhan, yaitu suatu wujud yang mutlak, maha tinggi, atau transendental. Bagi kaum ateis, yang ada ialah alam kebendaan, dan kehidupan pun terbatas hanya dalam kehidupan duniawi saja. Kehidupan ruhani serta alam setelah kematian adalah khayal manusia yang tak terbukti kebenarannya, karena itu juga mereka tolak. Dalam al-Qur’an disebutkan adanya kelompok manusia, yang firman itu kemudian ditafsirkan sebagai sebuah acuan kepada kaum ateis Arabia, yaitu firman Allah Q.S. al-Jatsiyah: 23-24
                                                 
23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
24. Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

[1384] Maksudnya Tuhan membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui bahwa Dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.

B. Sejarah Ateisme
Kata ini merujuk pada semacam perlawanan teologis kaum aktifis-intelektual di Eropa atas rumusan keagamaan Gereja yang elitis dan anti sosial. Kekristenan yang semestinya menerangi realitas hidup, memberi cahaya bagi kegelapan dan sebagai jembatan pembebasan bagi manusia tertndas tetapi pada prakteknya justru menghambat bagi usaha tercapainya keadilan sosial dan perdamaian universal. Gereja tidak mampu menampung dan menerangi “jalan kegelapan” tetapi sebaliknya hanya tempat ritual kosong-hampa tak bermakna. Gereja tidak pernah “membumi” tetapi ngawang-ngawang di langit. Gereja tidak mampu mewadahi realitas kemajemukan tetapi justru semakin memperparah jurang segregasi agama dan ras. Para teolog dan agamawan bukan berfungsi sebagai agen pembebasan bahkan sebaliknya memosisikan diri sebagai makelar Tuhan untuk membuat kontrak dan deal-deal dengan kekuasaan. Nama Tuhan hanya dipakai (dipinjam) untuk memberi berkat, pertaubatan spiritual, pengampunan dosa dan doa-doa rohani lain. Tuhan tidak pernah dipakai sebagai instrumen dan justifikasi untuk menolak tirani dean ketidakadilan. Lebih dari itu, Tuhan dibayangkan hanya bertempat di Gereja agung yang tak peduli dengan penderitaan manusia seperti seorang raja tiran yang duduk manis di menara gading dan hidup dari memeras keringat rakyatnya.
Kegundahan atas penyelewengan agama (abuse of religion) itulah yang membuat para aktifis-intelektual melakukan “perlawanan kebudayaan” dalam bentuk penyerangan doktrin-doktrin teologi klasik kepada para teolog-agamawan terutama rumusan-rumusan teologis yang berwatak diskriminatif dan anti sosial. Perlawanan teologis ini kemudian berdampak pada pengafiran dan stigmatisasi ateis kepada mereka karena dianggap melawan otoritas keagamaan (dengan begitu melawan otoritas Tuhan). Para kritikus teologi ini sebetulnya hanyalah ingin menghadirkan “Tuhan yang lain”, yakni Tuhan yang hidup, aktif, progresif, populis dan memiliki sensitivitas atau kepekaan sosial terhadap realitas kemajemukan dan ketidakadilan. Bukan Tuhan yang “fanatik” tetapi Tuhan yang berwajah pluralis. Jadi sebetulnya sejak detik pertama kata ateisme itu sudah “dikorupsi” oleh para teolog -agamawan Gereja sebagai ”anti Tuhan” dan bukannya “anti terhadap pandangan-pandangan ketuhanan atau teologis gereja”. Kemudian melalui agen propaganda profesional, ateisme yang “anti Tuhan” itu disebarkan dari mimbar ke mimbar di setiap forum dan kesempatan sebagai bahaya laten yang harus dimusnahkan karena mengancam eksistensi kekristenan dan gereja.
Sementara kelompok intetelektual berpendapat, masyarakat Eropa harus berubah dan maju tidak lagi hidup terbelakang beralas kemiskinan dan kebodohan. Eropa tidak boleh lagi tunduk di bawah otoritas Gereja yang menindas. Gereja yang hanya menyuburkan praktek diskriminasi dan ketidakadilan. Untuk melapangkan jalan menuju “Eropa baru” adalah dengan cara melakukan optimalisasi peran akal yang selama ini ditundukkan (dibekukan) di bawah bayang-bayang wahyu dan dogma keagamaan. Klimaks dari perseteruan teolog-agamawan versus aktifis-intelektual adalah sejak terjadi tragedi Galileo yang melegenda itu. Galileo adalah salah satu pilar intelektual yang dieksekusi pihak Gereja karena merumuskan teori geosentrisme. Sebuah temuan yang berlawanan dengan al-Kitab dan pandangan atau keyakinan kaum teolog-agamawan. Sejak itu perseteruan semakin meruncing, dan puncaknya terjadilah perang terbuka sesama pengikut Kristen antara kubu reformasi dan kontra reformasi yang menelan korban jutaan umat. Sampai di sini kita menjadi mafhum mengapa paham yang kemudian dikenal ateisme itu muncul. Dalam bingkai kesejarahan, dapatlah dipahami bahwa ateisme bukanlah sejenis pandangan yang menyangkal tentang agama dan Tuhan melainkan hanya sebatas penolakan terhadap pengertian atau definisi atau rumusan-rumusan ketuhanan tertentu. Meskipun pada fase berikutnya pandangan itu kemudian berkembang menjadi anti pati terhadap agama yang masih subur di Eropa terutama Eropa Barat.

C. Ateisme Dalam Dunia Barat
Entah bagaimana asal-muasalnya, tiba-tiba saja kata ini seperti hantu gentayangan yang menakutkan. Kata ini seperti membawa virus ganas yang membahayakan bagi keselamatan ontologi manusia sehingga pelakunya harus dilumatkan dari muka bumi. Kaum ateis dicap sebagai zindiq, kafir, najis, tak bermoral, tak beragama dan biadap. Kata ini tidak hanya dicaci di dunia Timur tapi juga dilecehkan di Barat. Kata ini juga pernah dipakai sebagai propaganda politik untuk menghancurkan komunisme dari muka bumi.

D. Ateisme Dalam Islam
Dalam sejarah Islam pun terjadi hal serupa. Sudah sejak masa-masa cukup dini dari perkembangan pemikiran Islam, banyak kelompok Islam yang saling menuduh sebagi kafir, murtad atau zindiq. Istilah “zindiq” inilah yang kira-kira merupakan padanan istilah ateis dalam literatur Islam, sedangkan padanan untuk ateisme ialah “zandaqah”. Istilah-istilah yang polemis ini, misalnya terdapat dalam berbagai karya al-Ghazali, antara lain risalahnya, Fashl al-Tafriqah bayn al-Iman wa al-Zandaqah (pembedaan yang jelas antara iman dan ateisme).
Ateisme dalam sejarah umat Islam, lebih mengarah pada kritik terhadap konsepsi kenabian. Merka inilah yang dalam rentang sejarah peradaban umat Islam, diidentifikasi sebagi ateis. Tetapi sebenarnya jika dirunut lebih jauh, kritik kenabian ini pada akhirnya juga akan tetap menjadikan seseorang menjadi skeptis terhadap wahyu yang dibawa oleh para Nabi tersebut. Pelacakan terhadap sejarah ateisme Islam inilah yang akan menjadi bahasan kita dalam pembahasan ini.
Dalam Islam, sejarah munculnya ateis mulai dapat kita lihat sekitar abad pertengahan. Dalam Islam, istilah ateis dipersamakan dengan istilah ilhad. Ateis dalam konteks ini bukan perdebatan ada-tidak adanya Tuhan atau agama, akan tetapi lebih pada upaya untuk melakukan dekonstruksi terhadap teori kenabian. Memang berbeda dengan pemahaman ateis yang ada di dunia Barat. Berawal dari persepsi bahwa Tuhan menciptakan manusia di muka bumi dengan bekal dan kemampuan yang sama, selanjutnya berarti bahwa status antar manusia itu sendiri adalah sama. Dimulai upaya rethinking terhadap persoalan kenabian dan kritik al-Qur’an yang bermuara pada kritik rumusan ketuhanan, yang biasa disebut sebagai zindiq. Diantara pemikir muslim yang masuk dalam kategori ateis ini adalah Ibn al-Muqaffa’, Ibn ar-Rawandi, Ibn Abu Ubaidillah, Ibn Abdillah al-Wazir, Jabir Ibn Hayyan, ar-Razi dan lain-lain.
Fase Awal Ateisme
Fase ini berada pada sekitar kekuasaan al-Mahdi dan al-Hadi (153-170 H). Tokoh yang paling terkenal pada masa ateisme awal ini antara lain Abu Ali Sa’id, Abu Ali Raja’, Abu Yahya, Yazdan Bakht, Abu Syakir, Ibn Talut, Dan Nu’man. Tokoh-tokoh tersebut berasal dari kalangan Mawali, Persia. Kemungkinan yang menjadi latar belakng kenapa mereka memilih sebagai zindiq, ada yang memang karena nenek moyang mereka termasuk bagian aliran zindiq. Mereka mengikuti aliran ini sebagai upaya melestarikannya. Alasan lain yang mereka gunakan adalah sebagai media akulturasi permainan intelektual.
Fase Puncak Ateisme
Ada dua tokoh yang berada pada masa di mana ateisme mengalami puncaknya, Ibn ar-Rawandi dan Jabir Ibn Hayyan. Tokoh pertama adalah Ibn ar-Rawandi, adalah spiritualis Islam yang lebih banyak dikenal baru-baru ini ketika para “arkeolog” menemukan fakta-fakta baru tentang pemikirannya. Sekitar tahun 250 H, ia menulis buku az-Zumurruz. Dalam buku tersebut, ar-Rwandi mengobrak-abrik salah satu fondasi penting dalam Islam, yaitu teori kenabian. Menurut ar-Rawandi bahwa mengirimkan Nabi dalam sudut ini merupakan kesalahan. Jika ia datang membawa sesuatu yang bertentangan dengan penilaian akal dan masalah baik, buruk, boleh dan larangan maka tidak ada kewajiban atas kami untuk mengakui ke-Nabiannya.
Tokoh kedua masa keemasan ateis yaitu Jabir Ibn Hayyan. Ia adalah figur yang sangat tidak jelas, dan diliputi rahasia sedemikian rupa sehingga nyaris jadi mitos. Keseluruhan tulisan Jabir termasuk aliran Isma’illiyyah. Tidak sekedar satu bidang keilmuwan, pemikiran Jabir juga mencakup kajian-kajian kimia dan fisika filosofis. Kajian kimia membawa Jabir menemukan “ilmu-ilmu” baru. Teori Jabir tentang penciptaan manusia, atau yang sering disebut proses penciptaan kimiawi (at-takwin as-shina’iy). Yang dimaksud Jabir dengan at-takwin adalah penciptaan secara kimiawi berbagai makhluk yang dapat dihubungkan dengan tiga macam dunia alami, khususnya dunia hewan. Jika kimia dapat menghasilkan materi-materi baru hanya dengan menyusun benda-benda satu sama lainnya, mengapa kimia tidak berusaha memproduksi tumbuhan dan hewan, bahkan menciptakan manusia buatan. Alam menghasilkan apa yang ada (beings) hanya tunduk pada hukum-hukum alam kuantitatif yang mendasari jalannya alam dan kerusakan di alam. Dengan demikian, tugas manusia setelah ia mengenali rahasia ini hanyalah mengikuti apa yang diperlihatkan oleh alam.
Itulah fakta sejarah yang tidak bisa terbantahkan. Bahwa peradaban Islam pada kenyataannya terbukti menghasilkan para ateis. Dan justru kehadiran mereka menjadi sangat berharga sebagai teman dialog bagi doktrin keislaman.

E. Pembagian Ateisme
Kategorisasi tentang ateisme biasanya di bagi ke dalam dua golongan. Pertama, ateisme agresif. Golongan ini adalah mereka yang tidak mau mengakui adanya Tuhan. Menurut mereka, Tuhan itu tidak mempunyai keberadaan. Arif Budiman, guru besar Melbourne University Australia, menilai ateisme semacam ini masih termasuk teisme, karena masih mempersoalkan tidak adanya Tuhan. Kedua, ateisme ekstrem. Golongan ini sudah tidak lagi memperdebatkan masalah ada atau tidaknya Tuhan. Ini biasa dilakukan oleh kaum eksistensialis Prancis seperti Sartre. Inti dari kedua golongan ateisme itu adalah semua orang bisa mempercayai apa yang bisa dilihat, dirasakan dan bisa difikirkan.

IV. SIMPULAN
Jika ditinjau dari Islam maka dapat disimpulkan bahwa:
 Dalam spiritualisme dalam Islam mempunyai suatu ajaran yang disebut sebagai sufisme. Ajaran ini berkembang mulai dari zaman Nabi samapai sekarang. Tetapi dalam penerapannya berbeda sekali, kalau pada zaman Nabi sufisme lebih mengarah pada kesucian diri untuk memperoleh ridho Allah sedangkan pada zaman sekarang yang sering disebut zaman globalisasi sufisme lebih mengarah pada ajaran yang digunakan untuk mengingat kepada Allah. Perbedaan itu terjadi karena tingkat keimanan pada zaman sekarang sudah mulai melemah dan hanya memikirkan urusan-urusan keduniawian.
 Sedangkan dalam agnostisisme dan ateisme kalau ditinjau dari Islam terdapat suatu golongan yang dalam ajaran teologi disebut sebagai mu’tazilah. Ajaran ini lebih mengarah pada kekuatan akal daripada wahyu yang diturunkan Allah kepada para utusan-Nya.

V. PENUTUP
Dalam ajaran Islam terdapat ungkapan “tafakkur fi khalqillah wa la tafakkur fi dzatillah”. Berfikirlah pada ciptaan Allah dan jangan berfikir pada dzat Allah. Demikianlah makalah yang dapat saya paparkan, adapun kritik dan saran sangat saya harapkan untuk perbaikan makalah ini dan makalah-makalah selanjutnya. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat. Amin.

















DAFTAR PUSTAKA


al-Qurtuby, Sumanto, Dekonstruksi Islam Madzhab Ngaliyan: Pergulatan Pemikiran Keagamaan Anak-anak Muda Semarang, Semarang, Rasail, 2005
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2000
http://id.wikipedia.org/wiki/Agnostisisme
http://robbani.wordpress.com/2009/03/10/ateisme/
http://www.geocities.com/area51/dunes/5591/dic/agnostik.htm
http://www.sufinews.com
Madjid, Nurcholish, Islam Agama Peradaban: Membangun makna dan Relevansi Doktrin IslamDalam Sejarah, Jakarta, Paramadina, 2000
Sobary, Mohammad, Diskursus Islam Sosial, Bandung, Zaman Wacana Mulia, 1998
Suwarno, Imam, Konsep Tuhan, Manusia, Mistik Dalam Berbagai Kebatinan Jawa, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlanggan artikel Blogtegal via e-Mail